1695 kata
8 menit

Perang Rohani yang Dimulai di Natal

TLDR (Too Long; Didn’t Read)

Kelahiran Yesus bukan sekadar kisah indah tentang bayi di palungan, melainkan serangan ofensif Allah terhadap kerajaan kegelapan yang telah mendominasi bangsa-bangsa sejak peristiwa menara Babel. Natal adalah titik balik di mana Allah sendiri masuk ke wilayah musuh untuk merebut kembali ciptaan-Nya. Reaksi brutal Herodes, kehadiran bala tentara sorga, pelayanan Yesus dan akhirnya kemenangan di kayu salib membuktikan bahwa kelahiran Mesias adalah deklarasi perang yang mengubah tatanan spiritual dunia selamanya.

🌟 Invasi Ilahi yang Dimulai di Betlehem#

Setiap Desember, jutaan orang Kristen merayakan Natal dengan penuh sukacita. Namun, jika kita membaca narasi Natal dengan lebih cermat, sebuah pertanyaan mengganggu muncul: Mengapa kelahiran seorang bayi memicu pembantaian massal? Mengapa Raja Herodes begitu ketakutan sehingga memerintahkan pembunuhan semua anak laki-laki berusia dua tahun ke bawah di Betlehem? Mengapa malaikat yang mengumumkan kelahiran ini datang bersama “sejumlah besar bala tentara sorga” (Lukas 2:13)?

Jawabannya mengubah segalanya: Natal bukan sekadar cerita manis tentang bayi di palungan. Ini adalah momen ketika Allah menyatakan perang terbuka terhadap kuasa kegelapan yang telah mendominasi dunia sejak kejatuhan manusia.

🌑 Latar Belakang: Dunia yang Dikuasai Kegelapan#

Untuk memahami bagian ini, kita perlu mengenal pemikiran seorang teolog Alkitab bernama Michael S. Heiser (1963-2023). Heiser adalah seorang sarjana Perjanjian Lama yang meraih gelar Ph.D. dalam bahasa dan sastra Ibrani. Sepanjang karirnya, ia dikenal karena pendekatannya yang unik dalam membaca Alkitab. Ia mendorong kita untuk memahami Kitab Suci bukan hanya melalui lensa teologi sistematis Barat modern, tetapi melalui worldview kosmologis Timur Tengah kuno yang menjadi konteks asli penulisan Alkitab.

Salah satu kontribusi terbesar Heiser adalah eksposisinya tentang apa yang ia sebut sebagai “divine council” (dewan ilahi), sebuah konsep alkitabiah bahwa Allah memerintah bersama dengan makhluk-makhluk surgawi yang disebut elohim (kata Ibrani yang bisa berarti “Allah,” “allah-allah,” atau “makhluk-makhluk ilahi”). Heiser menunjukkan bahwa Alkitab, terutama Perjanjian Lama, secara konsisten menggambarkan realitas spiritual yang kompleks di mana Allah berinteraksi dengan makhluk-makhluk surgawi ini, beberapa di antaranya setia kepada-Nya, sementara yang lain memberontak.

Pemberontakan kosmis ini dan konsekuensinya bagi umat manusia adalah latar belakang penting untuk memahami mengapa kelahiran Yesus adalah momen yang begitu revolusioner dan mengancam bagi tatanan spiritual yang ada. Dalam pandangan Heiser, sejarah keselamatan bukanlah sekadar kisah tentang Allah yang mengampuni dosa-dosa individu (meskipun itu benar dan penting), tetapi tentang Allah yang merebut kembali ciptaan-Nya dari tangan pemberontak-pemberontak kosmis yang telah mengklaim otoritas ilegal atas bangsa-bangsa.

Dengan kerangka pemahaman ini, mari kita mulai perjalanan kita dengan mengeksplorasi latar belakang kosmis yang membuat kelahiran Yesus menjadi deklarasi perang yang mengubah segalanya.

Untuk memahami mengapa Natal adalah deklarasi perang, kita perlu mundur ke peristiwa yang sering dilupakan dalam narasi Alkitab. Menurut Ulangan 32:8-9, setelah pemberontakan di Menara Babel, Allah membagi-bagikan bangsa-bangsa dan “mewariskan” mereka kepada makhluk-makhluk surgawi yang disebut bene elohim (dalam manuskrip yang lebih kuno: “anak-anak Allah” bukan “anak-anak Israel”). Sementara bangsa-bangsa lain diberikan kepada para elohim ini, Allah memilih Israel sebagai milik pusaka-Nya sendiri.

Namun, tragedi terjadi. Para elohim yang dipercayakan untuk mengawasi bangsa-bangsa ini memberontak. Mazmur 82 menggambarkan Allah menghakimi mereka (dewan ilahi) yang telah menyimpang dan menyesatkan bangsa-bangsa dalam kegelapan.

Konsekuensinya? Bangsa-bangsa jatuh ke dalam penyembahan berhala, yang menurut 1 Korintus 10:19-20, sebenarnya adalah penyembahan kepada “roh-roh jahat.” Dunia berada di bawah kekuasaan apa yang Alkitab sebut sebagai “ilah zaman ini” (2 Korintus 4:4), “penguasa dunia ini” (Yohanes 12:31), dan “penguasa kerajaan angkasa” (Efesus 2:2). Manusia tersesat dalam kegelapan, terpisah dari Allah yang sejati.

⚔️ Strategi Perang Allah: Janji-janji yang Mengarah ke Satu Pribadi#

Namun, Allah tidak meninggalkan bangsa-bangsa dalam kegelapan. Ia membuat serangkaian perjanjian yang berfungsi sebagai strategi perang bertahap untuk merebut kembali ciptaan-Nya.

Kepada Abraham, Allah berjanji: “olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kejadian 12:3). Ini bukan hanya tentang keturunan Abraham yang banyak, tapi ini adalah janji pembalikan Babel, restorasi bangsa-bangsa yang telah diwariskan kepada para elohim pemberontak.

Kepada Daud, Allah berjanji seorang Raja dari garis keturunannya yang akan memerintah selamanya (2 Samuel 7; 1 Tawarikh 17). Bahkan Mazmur 2 mengungkapkan dimensi kosmis dari janji ini: ” Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu.” (ay. 8). Raja Mesianis ini akan menerima bangsa-bangsa, merebut mereka kembali dari para elohim pemberontak.

Kedua garis janji ini menyatu pada satu Pribadi: Mesias yang akan muncul dari keturunan Abraham dan Daud, yang akan membawa berkat kepada semua bangsa, dan yang akan mengalahkan kerajaan kegelapan.

👶 Mengapa Allah Harus Menjadi Manusia?#

Tetapi mengapa Allah harus menjadi manusia? Mengapa Inkarnasi diperlukan?

Jawabannya terletak pada tatanan penciptaan yang Allah sendiri telah tetapkan. Dalam Kejadian 1:26-28, manusia diberikan otoritas atas bumi, untuk menjadi wakil-wakil Allah, menjalankan pemerintahan-Nya di bumi. Mazmur 8:7 menegaskan: ” Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya.”

Namun, Adam memberontak dan, dalam prosesnya, menyalahgunakan otoritas yang sah itu dan pada dasarnya menyerahkannya kepada Iblis. Inilah mengapa Iblis bisa mengklaim bahwa semua kerajaan dunia “telah diserahkan kepadaku” (Lukas 4:6).

Untuk merebut kembali otoritas atas bumi dengan cara yang adil dan sah secara kosmis, Allah membutuhkan seorang Manusia, seorang yang setia, yang tidak jatuh, untuk mengklaim kembali apa yang telah hilang. Hanya dengan menjadi manusia, Allah bisa secara legal dalam kerangka tatanan penciptaan-Nya sendiri, merebut kembali otoritas itu.

Inilah mengapa Yohanes 1:14 adalah pernyataan yang begitu revolusioner: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” Kata Yunani yang diterjemahkan “diam” adalah eskēnōsen artinya “berkemah” atau “bertabernakel.” Ini bukan hanya bahasa pastoral, ini adalah bahasa militer. Ketika seorang jenderal melakukan kampanye perang, ia “berkemah” di wilayah musuh. Allah Yang Mahakuasa telah mendirikan kemah-Nya di wilayah yang dikuasai musuh.

Dengan kata lain: Inkarnasi adalah invasi.

🌠 Betlehem: Deklarasi Perang Resmi#

Di Betlehem, deklarasi perang resmi diumumkan.

  • Malaikat memproklamirkan kelahiran “Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan” (Lukas 2:11) ini adalah tiga gelar yang menantang otoritas Kaisar, mengidentifikasi-Nya sebagai Raja mesianis, dan menyatakan keilahian-Nya.
  • Bala tentara sorga (stratia artinya “tentara”) muncul untuk merayakan invasi dan memproklamirkan “kemuliaan bagi Allah… dan damai sejahtera di bumi” (Lukas 2:13-14). Mereka bukan sekedar paduan suara para malaikat. Mereka adalah tentara perang dari sorga. Ini adalah proklamasi kemenangan dan dimulainya kampanye perang.
  • Herodes bereaksi dengan ketakutan dan kekerasan: pembantaian bayi-bayi di Betlehem (Matius 2:16-18), ini manifestasi dari kemarahan kuasa kegelapan yang menyadari ancaman eksistensial terhadap dominasi mereka.
  • Orang-orang Majus dari bangsa-bangsa lain datang menyembah Raja Israel (Matius 2:1-12) sebagai tanda awal bahwa bangsa-bangsa mulai berbalik dari para elohim pemberontak kepada Raja yang sejati.

🙌 Pelayanan Yesus: Kampanye Pembebasan#

Pelayanan Yesus adalah kampanye militer aktif untuk merebut wilayah dari kerajaan kegelapan. Setiap aspek dari misi-Nya adalah bagian dari operasi ofensif yang terkoordinasi:

  • Ia memproklamirkan bahwa “Kerajaan Allah sudah dekat” (Markus 1:15)-pemerintahan Allah sedang kembali ke bumi, menantang pemerintahan “penguasa dunia ini.”
  • Ia mengusir setan-setan dengan otoritas langsung (Markus 1:21-28; 5:1-20) dan membebaskan tawanan dan merebut wilayah musuh. Setiap pengusiran setan adalah kemenangan taktis dalam perang yang lebih besar.
  • Ia melatih dan memberdayakan murid-murid-Nya (Lukas 9:1-2; 10:17-20), mendelegasikan otoritas kepada mereka untuk mengusir setan dan menyembuhkan, ini melipatgandakan pasukan pembebasan.

✝️ Salib dan Kebangkitan: Kemenangan Penuh Melalui Paradoks#

Di kayu salib, pertempuran yang menentukan dimenangkan melalui cara yang paling paradoks: kemenangan melalui kekalahan, kehidupan melalui kematian, kemuliaan melalui penderitaan.

  • Kristus menghapus “surat hutang” yang mendakwa kita (Kolose 2:14). Ia membayar harga dosa kita dan menghilangkan dakwaan legal yang memungkinkan kuasa kegelapan untuk menuntut kita.
  • Kristus melucuti senjata pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa spiritual dan mempertontonkan mereka dalam kemenangan-Nya (Kolose 2:15) Ia mengalahkan para elohim pemberontak secara menyeluruh.
  • Kristus memusnahkan kuasa Iblis atas kematian (Ibrani 2:14-15). Ia membebaskan kita dari perbudakan ketakutan akan kematian.
  • Kristus merebut kembali tawanan-tawanan dari kerajaan kegelapan (Efesus 4:8; Kolose 1:13).

Dan melalui kebangkitan, kemenangan itu dikonfirmasi:

  • Kematian dikalahkan (1 Korintus 15:54-57). Musuh terakhir tidak lagi memiliki kuasa atas mereka yang ada di dalam Kristus.
  • Segala kuasa di sorga dan di bumi diberikan kepada Kristus (Matius 28:18). Ootoritas penuh dipulihkan kepada Manusia yang sejati.

🌐 Amanat Agung: Implementasi Kemenangan#

Dengan otoritas penuh di tangan-Nya, Yesus memberikan perintah: “jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Matius 28:19). Ini adalah perintah militer untuk melanjutkan operasi perebutan kembali bangsa-bangsa yang telah lama berada di bawah dominasi para elohim pemberontak dalam Ulangan 32 sekarang harus dibebaskan dan dibawa ke dalam Kerajaan Allah.

Misi Gereja adalah implementasi dari kemenangan yang sudah diraih di kayu salib. Setiap orang yang diselamatkan, setiap komunitas yang diubah, setiap bangsa yang menerima Injil adalah wilayah yang direbut kembali dari kegelapan.

📢 Hidup di Antara Kemenangan dan Kesempurnaan#

Hari ini, kita hidup dalam periode yang unik dalam sejarah keselamatan yaitu antara kemenangan yang sudah diraih dan kesempurnaan yang masih dinantikan. Bayangkan seorang atlet yang sudah memenangkan pertandingan final tetapi belum naik ke podium untuk menerima medali emas. Atau seperti seorang mahasiswa yang sudah lulus ujian akhir dengan sempurna tetapi masih menunggu upacara wisuda. Kemenangan sudah pasti, tetapi perayaan dan pengakuan penuh masih akan datang.

Demikian pula, salib dan kebangkitan adalah “Hari Kemenangan”. Kemenangan sudah diraih. Musuh sudah dikalahkan secara pasti. Tetapi implementasi penuh masih sedang berlangsung dan akan diselesaikan pada kedatangan Kristus yang kedua.

Kita hidup dalam periode “sudah tetapi belum sepenuhnya” (already but not yet). Kristus sudah mengalahkan Iblis (Kolose 2:15). Kita sudah dipindahkan dari kerajaan kegelapan (Kolose 1:13). Tetapi kesempunaan penuh belum terjadi. Musuh masih aktif, seperti pasukan yang dikalahkan yang masih melakukan serangan gerilya (1 Petrus 5:8).

Ini berarti:

  • Kita hidup dengan kepastian kemenangan, tidak ada ketakutan atau ketidakpastian tentang hasil akhir.

  • Kita tetap waspada dan berjuang karena medan perang rohani masih nyata

  • Kita berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari, melalui doa, penginjilan, dan kehidupan yang kudus

🎄 Merayakan Natal dengan Cara Baru#

Memahami Natal sebagai invasi ilahi mengubah cara kita merayakannya. Ini bukan hanya kisah yang manis dan sentimental. Ini adalah perayaan momen ketika Allah menyerang balik dalam konflik kosmis yang paling penting dalam sejarah.

Setiap kali kita menyanyikan “Joy to the World,” kita memproklamirkan: Raja telah datang! Setiap kali kita merenungkan palungan, kita mengingat: Allah telah masuk ke wilayah musuh. Setiap kali kita merayakan Natal, kita mendeklarasikan ulang: Kegelapan telah dikalahkan. Kemenangan sudah diraih.

Dan sampai Kristus datang kembali untuk menyelesaikan apa yang Ia mulai, kita adalah pasukan-Nya, agen-agen-Nya, duta-duta-Nya, Kita yang dipanggil untuk melanjutkan misi pembebasan yang dimulai di Betlehem, yang dimenangkan di Golgota, dan yang akan diselesaikan ketika Ia kembali dalam kemuliaan.

📝 Penutup#

Ketika kita merayakan Natal tahun ini dan setiap tahun, mari kita ingat bahwa ini bukan hanya kisah yang indah tentang bayi di palungan. Ini adalah kisah tentang invasi ilahi, deklarasi perang kosmis, dan permulaan dari operasi pembebasan terbesar dalam sejarah alam semesta.

Raja telah datang. Kerajaan-Nya telah tiba. Musuh telah dikalahkan. Dan kita, jemaat Kristus, dipanggil untuk melanjutkan misi pembebasan ini sampai Ia datang kembali dalam kemuliaan.

Raja telah datang. Raja telah menang. Raja akan datang kembali. Maranatha!

Support & Share

If this article helped you, please share or support!

Sponsor
Perang Rohani yang Dimulai di Natal
https://vanutamamenulis.pages.dev/posts/natal-perang/
Author
Yedija Vanutama
Published at
2025-12-25
License
CC BY-NC-SA 4.0

Daftar Isi